Makanlah sesudah beryadnya

DHARMA WACANA
MAKANLAH SESUDAH BERYADNYA

Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Dharma Wacana

Disusun Oleh :

I Gede Sudha
DS0108028


SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU (STAH)
DHARMA SENTANA SULAWESI TENGAH
Palu   Desember 2009








Makanlah setelah beryadnya
OM SWASTIASTU
OM AWIGNAM ASTU NAMA SIDAM
                      Inggih sane kapertame titiang ten lali antuk mangucapin angayu bagya sangkaning asung kertha warenugrahane Ide Sang Hyang Widhi Irage driki sareng sami ngemanggihen kerahayuan ngantos galah puniki preside ngelaksanayang swadharmaning suang – suang
Umat sedharma Yang berbahagia …………..
                      Dewasa mangkin titiang kari akeh ngemikolehen umat Hindu sareng sami sane durung ngalaksanayang yadnya sesa sedurunge ida ngerayunin. Olih krane punike titiang eling ring manah antuk mengambil judul dharma wacana tiang puniki sane majudul makalah sesudah beryadnya !
Dewansrin manusyansca Pitrn grhyasca
Dewatah pujagitwa tatah
Pascad grhastha sesabhugbha

(Manawa dharmasastra III.117 )
                      Dari kutipan diatas maksudnya adalah sebaiknya makanlah setelah milakukan persembahan kepada dewa atau manifestasi dari Tuhan, para maha Rsi, leluhur yang telh suci (pitara ) kepada para Dewa penjaga rumah dan juga kepada para tamu,sestelah itubarulah sipemilik rumah itu makan. dengan demikian ia akan terlepas dari dosa.
                      Olih krana punike merikim irage sareng sinamian antuk ngelaksanayang swadharmaning irage selaku manuse sane urip sangkaning yadnyan Ida antuk punike meriki irage nelaksanayang yadnya sesa.
                      Oleh karena itu marilah kita mulai  melaksanakan kewajiban kita sebagai manusia yang hidup karaena yandnaya beliau untuk itu marilah kita melaksanakan yadnya sesa.
Umat Sedharma Yang Berbahagia…………
                      Upacara mesaiban dalam tradisi umat hindu dibali telah dilakukan sejak ratusan tuhun yang lalu dan masih hingga sekarang.meskipun demikian masih banyak perbedaan persepsi mengenai upacara yang sangat sederhana ini upacara ini merupakan tradisi untuk melaksanakan  persembahan sesajian yang berupa sejumput nasi yang dialasi dengan sepotong daun pisang yang di isi denagan beberapa luk pauk ataupun dengan sedikit garam
                      Mengenai upacara ini teleh memiliki makna yang sama  dengan kalangan intelektual hindu dalam bagawadgita III.13 pun dikelaskan bahwa makanlah setelah melakukan yadnya dalam sloka itu dikatakan dengan istilah yadnyasistasinah yang  artinya makanlah setelah melakukan yadnya akan terlepas dari dosa, dan sebaliknya mereka yang makan tanpa melakukan yadnya terdahulu maka ia sesungguhnya itu memakan dosa nya sendiri.
                      Yang paling sering dipermasalahkan oleh umat dimana meski banten itu di persembahkan ? ada yang mengacu pada Manawa dharmasastra III.68 dan 69 dalam sloka 68 dinyatakan bahwa dosa manusia yang di timbulkan oleh litha tempat penyembelihan yaitu tempat memesak, batu pengasah, sapu, lesung dangan alunya dan tempaian tempat air dan ada pula yang menganjurkan agar banten saiban itu di persembahkan di lima tempat penyembelihan itu namun sloka 69 menyatakan bahwa untuk menebus dosa setiap kepala keluarga  di gariskan untuk melekukan yadnya ini artinya persembahan banten saiban itu bukan hanya di lima tepat itu saja namun di ajurkan untuk melakukan panca yadnya tersebut tiap harinya Dalam wujud mesasiban.
                      Wujud Masaiban adalah pelaksanaan panca yadnya yakni dalam bentuk kecil dan sederhana oleh karena panca yadnya yang di gariskan maka banten saiban itu dapat di persembahkan sampai ke sanggah merajan dan tenpat lainya di rumah tempat tinggal sekeluaraga sebagaimana di kataka dalam sloka Manawa dharmasastra III,117 keluarga boleh makan setelah melakukan persembahan kepada dewa (manifestasi ) Tuhan kepada Rsi, Dewa Pitra atau Roh suci leluhur yang telah mencapai siddha dewata kepada penjaga sepiritual rumah tinggal  hulu pekaranga dan kepda tamu.
Umat sedharma yang berbahagia ………….
                      Agar dapat meringankan beben dosa – dosa yang kita lakukan setiap hari pada saat kita memasak marilah kita melaksanakan saiban atau yadnya sesa itu setelah selesai memesak di lima tempat penyembelihan tersebut dan sebaikna dilakukan sampai pada sanggah pemerajan serta juga ditempat lainya disekitar tempat tinggal sekeluarga.
                      Jadi makan suci itu adalah makan yang telah di persembahkan dalam upacara yadnya sepeti bantan saiban itu. makanan yang demikian itulah makanan orang orang bijaksana dalam beberapa sloka diatas akan di jabarkan lebih lanjut dalam hal hal tersebut seyogyanyalah di pahami sebagai suatu konsep hidup yang benar dan wajar konsep hidup yang terkandung dalam upacara mesaiban itu adalah konsep yang mendukung kita agar bekerja dengan baik benar dan wajar terlebih dahulu kemudian hasil kerja itulah yang kita makan.
                      Dengan demikian saya menghimbau kepada umat sedharma sekalian marilah kita memakan makanan yang suci agar kita dapat menjadi orang – orang yang bijaksana.
                      Konsep seprti ini sangat tepat di segala jaman jangan seperti orang yang ingin mandapatka banyak rezeki tetapi tanpa bekerja dalam kearipan lokal bali ada disebut “ngayah dulu baru dapat catu atau hasil catu tanpa ayah artinya dapat hasil tanpa bekerja artinya ada masyarakat yang bekerja tetapi tidak mendapatkan hasil”.
                      Ini berati maknailah upacara masaiban itu dangan mengembangkan etos kerja yang baik. Etos kerja yang baik itu adalah etos kerja yang profeseonal dari para pekerja mendapat perlakuan yang adail dan sistem kerja yang di tetapakan oleh kebijaka pemerinth Negara semoga dengan memakai upacara masaiban ini kita bisa meningkatkan sikap jujur dan adil dalam kerja jangan hanya manyerahkan urusan kita pada Tuhan. Karunia Tuhan dengan bekerja berdasarkan yadnya atau ilmu pengetahuan sebagai wujud bakti kita pada Tuhan.
                      Jadi adapun kesimpulan Dharma Wacana saya ini yaitu yadnya sesa atau mesaiban merupakan sesuatu yang wajib kita lakukan selaku umat yang beragama hindu demi membalas yadnya yang dilakukan Tuhan untuk menciptakan alam semesta ini dan wujud rasa bakti kita kepada_Nya serta juga demi kebaikan kita semua. Apabila prilaku ini dapat kita wujudkan di setiap kehidupan maka kebahagiaan dapat di wujudkan. serta sradha juga sebagai dasar keyakinan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena tanpa sradha orang akan gagal melakukan apapun termasuk melakukan yadnya sesa ini
                      Jadi marilah kita melakukan yadnya sesa dengan penuh keyakinan agar kita tidak sia – sia melakukan yadnya.
Demikian Dharma Wacana saya ini saya sampaikan semoga dapat berguna bagi kita semua akhir kata saya ucapkan paramasantih
OM SANTI, SANTI, SANTI OM

Comments

Popular posts from this blog

Kwangen Sebagai sarana persembahyangan

Dedinan dan cara untuk menentukanya Sebagai  masyarakat Bali memiliki banyak tradisi yang unik yang merupakan pengimplementasian dari ajaran Agama Hindu itu sendiri. Prinsip-prinsip dasar keagamaan ditekankan di semua golongan masyarakat. umur yang bersangkutan. Sebagai umat Hindu rutinitas ritual keagamaan seperti sudah biasa dilakukan oleh umat Hindu, Dalam ajaran Hindu banyak orang yang telah tahu, ada sebuah istilah yang disebut upacara/ ritual dimana upacara tersebut adalah pengorbanan yang tua kikhas kepadaNya, upacara/ritual keagamaan Hindu merupakan ungkapan rasa terima kasih umat kepadaNya atas segala limpahan rejeki yang diberikan kepada umatnya. Didalam ajaran agama Hindu Otonan merupakan salah satu bentuk upacara yang merupakan bagian dari Manusa Yadnya yang sesungguhnya bertujuan untuk menyucikan manusia itu secara lahir dan bathin. Tentang otonan itu, otonan tidaklah mesti dibuatkan dengan upacara yang besar mewah, yang intinya merupakan nilai rohani, sehingga anak yang di otonin tadi mendapatkan nilai rohani sesuai yang harapkan, nilai itu dapat menyusun aneka pencerahan kepada setiap orang atau anak yang diupacarai/ dioton. Namun disini yang kita bahas bukan masalah otonan melainkan yang kita bahas adalah Dedinan (hari lahir). Dedinan (hari lahir) sangat berbeda dengan otonan kalau otonan diperingati setiap 210 hari sekali (6 bulan dalam hitungan kalender Bali) sedngkan Dedinan diperingati setiap 35 hari sekali (sebulan dalam hitungan kalender Bali). Sebenarnya Konsep dedinan sama halnya dengan birthday cuman cara penghitungannya saja yang membedakan keduanya. Menurut tradisi masyarakat Hindu Bali, mengenal istilah 10 macam basis perhitungan hari yang dinamakan dengan istilah wewaran. Basis atau sistem yang sangat populer dan sering digunakan oleh hampir semua orang di dunia. Basis yang paling sering digunakan adalah basis 7 (Sapta Wara) di mana hari yang sama berulang setiap 7 hari. Hari-hari tersebut diantaranya yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Selain itu ada juga satu basis yang juga sangat terkenal terutama di Jawa dimana basis tersebut yaitu basis 5 di mana hari yang sama bisa berulang setiap 5 hari sekali hari tersebut yaitu Umanis/Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, atau dalam bahasa Bali disebut dengan panca wara. Dengan adanya cara atau proses perhitungan yang berbeda ini mengakibatkan dalam suatu hari tertentu akan dapat memiliki beberapa nama yang berbeda, sesuai dengan cara perhitungannnya. Sebagai suatu contoh, saya lahir pada rabu pahing, hari Rabu menurut basis 7 dan Pahing menurut basis 5. Jadi maka dapat dikatakan sebagai Rabu Pahing. Dapat dipikirkan seandainya bila terdapat 10 basis penghitungan hari berbeda, maka terdapat 10 sebutan nama dalam sehari tertentu. Apabila saudara merupakan orang Bali, paling tidak saudara sering mendengar "hari ini hari paskah atau Wage ataupun kliwon". Barang tentu ini merupakan beberapa nama hari menurut basis 3. Jadi hari ini atau hari esok merupakan Senin Pahing atau Selasa kanjeng ataupun Rabu Pasah. Dengan demikian Dedinan merupakan hari ulang tahun yang ditentukan dengan perharitung oleh dua cara yang berbeda menurut perhitungan basis 7 dan basis 5. Dapat dikatakan bahwa hari yang sama bisa berulang setiap 35 hari sekali. Jika saya lahir Rabu pahing maka Dedinan saya yang pertama adalah Rabu Pahing 35 hari yang akan datang. Selanjutnya, kenapa dedinan harus diperingati? Dedinan biasanaya hanya diperingati sampai beberapa kali saja yang intinya hanya sebagi cerminan bahwa sang orang tua sangat menyayangi dan sebagai ungkapan rasa cintanya terhadap sang buah hati, sebagai penyempurnaan upacara manusia yadnya, serta sebagai maksud dan tujuan sebagai pernyataan rasa terima kasih kepada Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, karena telah dikaruniai seorang anak, memohon perlindungan, tuntunannya agar kelak tumbuh menjadi anak yang suputra. Cukup sekian dulu ya pembebasan ini, semoga artikel ini berguna dan dapat menambah pengetahuan kita semua dan buat Anda. Jangan lupa follow, atau tinggalkan coretan dikolong komentar dan kunjungi terus, https://sudhagede.blogspot.com dan dapatkan Update artikel terbaru kami.

Pengertian Bhakti